Fosil "Burung Darwin" Ditemukan di China

>> Kamis, 29 Oktober 2009

Liustrasi reptil terbang yang diberi nama Darwinopterus modularis.
BEIJING, KOMPAS.com - Paleontolog China dan Inggris mengumumkan temuan fosil reptil terbang, pterosaurus, yang dipercaya hidup pada 65 juta hingga 220 juta tahun silam. Temuan itu menjadi kunci misteri keberadaan reptil terbang selama ini.

Temuan tersebut dijuluki Darwinopterus modularis, sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap pencetus teori evolusi Charles Darwin. Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal terbitan Inggris, Proceedings of the Royal Society B, Rabu (14/10).
Fosil ditemukan di gunung batu, yang terbentuk 160 juta tahun silam di sisi utara China, awal tahun ini. Masa itu merupakan masa pertengahan dan akhir periode Jurassic. Selama ini para ahli hanya mengetahui dua kelompok reptil terbang, antara yang primitif dengan ekor panjang (disebut juga pterodactyls) dan yang lebih maju, yang berekor pendek.

Sementara itu, Darwinopterus menunjukkan tanda-tanda perantara antara keduanya. Darwinopterus menyerupai reptil yang mirip elang dengan kepala dan leher mirip pterosurus yang lebih maju. Namun, kumpulan tulang yang dikumpulkan para ahli menunjukkan bentuk-bentuk primitif.

Para ahli menyebutkan, temuan tersebut kemungkinan merupakan bukti dari apa yang dikenal sebagai evolusi modular, yaitu seleksi alam mendorong keseluruhan ciri untuk berubah secara cepat dibandingkan dengan yang lainnya.

"Temuan ini mengejutkan kami semua," kata paleontolog dari Universitas Leicester, Inggris, David Unwin, seperti dikutip AFP. Secara fisik, Darwinopterus berahang panjang, memiliki deret gigi tajam, dan leher yang bisa digerakkan fleksibel.

Para ahli menduga jenis itu bertahan hidup mengandalkan sayapnya dengan menangkap secara cepat mamalia kecil atau dinosaurus berbulu seukuran merpati cikal bakal burung masa kini. Para peneliti, yang diketuai ahli dari Institute of Ecology Beijing memercayai, pterosaurus merupakan contoh proses evolusi yang cepat, dimulai dari kepala dan leher, lalu diikuti tubuh, ekor, sayap, dan lengan. (AFP/GSA)

Sumber : Kompas Cetak

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger template Webnolia by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP